
Chris membenci udara malam musim dingin. Angin kencang selalu mengacak-acak tatanan rambutnya dan suhu yang amat rendah selalu membuat tubuh kurusnya menggigil di balik jaket tebalnya. Dengan cepat pemuda berambut hitam itu berlari menyeberangi jalan dan memasuki bangunan besar yang berada di pinggir jalan.
Hawa hangat penghangat ruangan seketika menyambutnya. Chris dengan cepat membuka mantelnya dan menyapa seorang wanita yang duduk di balik meja resepsionis.
“Syukurlah kau akhirnya datang, Chris, ini sudah hampir waktunya makan malam, dan kau tahu sendiri kan kalau Mrs. Waynes tidak akan mau makan jika bukan kau yang menyuapinya?”ujar wanita itu lega sambil menyodorkan sebuah kartu tanda pengenal pada pemuda di hadapannya. Chris langsung menerima kartu tanda pengenal itu dengan penuh semangat. “Maafkan aku, Mrs. Park, tapi natal sudah semakin dekat, dan ibuku menginginkan hiasan natalnya telah terpasang dengan baik sore ini, jadi aku terpaksa membantunya!”ucap Chris cepat sambil menyematkan kartu tanda pengenal itu ke kaos hitamnya. Wanita yang dipanggil Mrs. Park itu hanya tersenyum sebelum kemudian mengecek kalender di mejanya.
“Benar juga, sebentar lagi Natal. Chris … apa kau sudah memikirkan hadiah apa yang kau inginkan?”tanya wanita itu penasaran. Chris langsung tertawa.
“Tidakkah aku terlihat terlalu tua untuk masih percaya dengan Santa? Ayah berhenti menggenakan kumis palsu dan baju merah tololnya itu saat umurku sepuluh tahun, jadi sudah sejak saat itulah aku tak lagi membuat daftar hadiah yang kuinginkan di hari natal, Mrs. Park!”ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita yang duduk di hadapannya itu langsung mengambil segulung kertas dari mejanya dan memukul kepala Chris dengan gulungan kertasnya.
“Tanggal dua puluh lima desember adalah hari ulang tahunmu, Chris, jadi jangan berlagak bodoh dan bertingkah seolah kau tak mengingat hal itu!!!”gerutu wanita itu kesal. Chris hanya tertawa.
“Banyak hal yang dapat kulakukan selain memikirkan hal itu, Mrs. Park, dan seingatku, tadi anda bilang Mrs. Waynes sudah menunggu saya, saya rasa tidak baik jika saya membuatnya menunggu lebih lama lagi!”seru pemuda itu sambil menyusuri koridor panjang yang tampak cukup nyaman di depannya.Azure Hill Convalescent Home, di sanalah Chris menghabiskan liburan musim dinginnya. Untuk mereka yang belum tahu, convalescent home adalah tempat dimana orang-orang yang membutuhkan perawatan medis panjang, dan orang-orang yang baru menjalani operasi besar yang membutuhkan rehabilitasi dalam jangka waktu panjang tinggal. Hanya saja entah sejak kapan tempat itu kini lebih menjadi tempat tinggal untuk orang tua yang membutuhkan perawatan medis.
Cukup aneh memang, karena kebanyakan remaja seperti dirinya lebih memilih untuk bersenang-senang pada masa liburan mereka, tapi Chris menyukai pekerjaannya. Orang tua yang tinggal di convalescent home ini terlalu menyedihkan dan tak berdaya. Keluarga mereka meninggalkan mereka dan mempercayakan mereka kepada para perawat dan dokter di tempat ini. Mereka hanya berkunjung pada hari libur tertentu, dan itu pun tidak lebih dari tiga puluh menit. Ya, tempat ini adalah tempat bagi orang-orang tua yang kesepian.
Chris membantu menghilangkan rasa sepi itu. Ia mengajak para orang tua itu mengobrol, bermain, menyuapi mereka makan, dan bahkan menuntun mereka ke tempat tidur mereka. Para orang tua menyukainya, dan mereka juga sering memberinya hadiah, sekalipun tentu saja, sudah peraturan di tempat ini kalau kita tidak boleh benar-benar menerima hadiah mereka. Dia harus mengembalikan hadiah-hadiah itu ke lemari para pasien di saat mereka tidur. Para orang tua itu tidak akan pernah ingat pernah memberinya sesuatu, dan jika barang yang diberikan padanya itu adalah hal yang sebenarnya cukup berharga bagi mereka, tuduhan mencuri adalah hal yang akan diterimanya.”… Anakku lulus dari Yale hari ini. Dia melambaikan tangannya dari podium! Kau percaya itu?! Anakku, anak laki-lakiku yang manis, berhasil lulus dari Yale?!”seruan penuh semangat Mrs. Wayens membuat Chris tersenyum. Tentu saja dia sudah pernah mendengar cerita ini berulang-ulang. Putra Mrs. Waynes lulus dari Yale Univerisity, menikah dengan seorang pengacara ternama, memiliki keluarga yang manis dan bahagia, sampai akhirnya komplikasi penyakit diabetes Mrs. Waynes membuatnya berakhir di tempat ini dan keluarga bahagia yang manis itu kini menjadi sebuah ilusi.
“Kisah anda sangat manis, Mrs. Waynes, saya yakin putra anda akan mengunjungi anda natal tahun ini …”ucap Chris menimpali cerita wanita tua yang duduk diatas kursi roda yang di dorongnya.
“Oh, tentu saja! Dia akan datang bersama …”wanita itu terdiam sejenak berusaha keras mengingat sesuatu.
“Michael dan Matthew, Mrs. Waynes, cucu-cucu anda yang manis!”Chris mengingatkan. Ya, wanita itu bahkan tidak dapat mengingat nama cucu-cucunya, tapi Chris selalu ingat. Dia selalu mengingat seluruh cerita yang pernah diceritakan padanya. Wanita tua itu langsung tersenyum dan mengangguk senang.
“Ya! Michael dan Matthew… mereka adalah anak-anak yang manis…”Chris tak begitu memperhatikan cerita dari wanita itu, lagipula cerita yang diceritakan wanita itu selalu sama. Sekelompok kecil orang yang memasuki kamar di sebelah kamar Mrs. Waynes menarik perhatiannya. Pasien-pasien di convalescent home ini jarang mendapat tamu, jika pun ada, biasanya mereka hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit di sana sebelum kemudian kembali pergi melanjutkan kehidupan mereka, tapi sekelompok kecil orang ini berbeda. Mereka tidak hanya datang hampir setiap hari, tapi mereka juga menghabiskan hampir separuh hari mereka di tempat itu.Mr. Kurniawan adalah panggilan untuk pria tua beruntung itu. Nama yang aneh jika Chris boleh mengatakannya, tapi orang Asia memang selalu memiliki nama yang terdengar asing di telinganya, jadi hal itu tak begitu menganggunya lagi. Pria itu dibawa ke convalescent home ini dua minggu yang lalu setelah menjalani operasi jantung yang cukup berat. Chris mendengar bahwa pria itu sempat koma selama beberapa hari sebelum akhirnya sadar dan kemudian di bawa ke tempat ini, tempat di mana ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas ranjang.
Para perawat dan dokter jelas sudah berusaha semampu mereka untuk meminta pria tua itu mengikuti program rehabilitasi yang disediakan convalescent home, tapi apa boleh buat, selama pasien berada dalam keadaan sadar, jika pasien itu menolak maka para tim medis jelas tidak boleh memaksanya.Sampai akhirnya seorang wanita setengah baya yang didampingi oleh putrinya datang seminggu yang lalu bersama dengan beberapa keluarga Mr. Kurniawan yang sudah pernah Chris lihat sebelumnya. Para tamu yang jelas saja memancing perhatian karena mereka selalu menyemangati Mr. Kurniawan dengan penuh semangat dalam setiap sesi rehabilitasinya, bahkan tanpa segan-segan sang Ibu membantu-atau lebih tepatnya memaksakan-proses rehabilitasi itu sendiri. Sejak saat itulah Mr. Kurniawan mulai mau mengikuti rehabilitasi.
“Wanita itu dokter …”ucap Mrs. Park suatu hari.”Dia dan putrinya sengaja datang dari Indonesia saat mendengar keadaan Mr. Kurniawan dan memaksa pria tua itu berdiri dari ranjangnya. Wanita yang luar biasa. Kuharap putri dan cucuku akan melakukan hal yang sama padaku saat aku tua dan sakit-sakitan nanti …”sambung wanita itu lagi sambil menahan tawanya saat melihat Mr. Kurniawan berusaha melangkahkan kakinya dengan didampingi keluarganya. Chris mau tak mau ikut tersenyum, karena seorang wanita, yang sudah jelas sibuk jika melihat profesinya, mau saja menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menemani ayahnya yang sakit, adalah sebuah pemandangan yang hampir tak pernah ditemukannya di tempat ini.
Chris memiliki sedikit waktu beristirahat setelah menyuapi Mrs. Waynes. Wanita itu berhenti makan pada suapan kedua, dan Chris tidak dapat memaksanya untuk makan lebih banyak lagi, sementara dia masih memiliki waktu dua puluh menit lebih lagi sebelum acara rekreasi yang dipimpinnya dimulai. Akhirnya, setelah ia melaporkan masalah makan Mrs. Waynes pada perawat yang bertugas, dia pun memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya yang sedikit itu di halaman belakang.Halaman belakang Convalescent Home itu merupakan sebuah taman kecil yang dibangun untuk menjadi tempat yang disediakan untuk memastikan bahwa para pasien terkena sinar matahari setiap hari. Setiap jam delapan sampai jam sepuluh pagi biasanya para pasien akan dibawa ke tempat ini untuk mendapatkan asupan matahari yang cukup, tempat ini biasanya hanya akan menjadi taman kosong di malam hari. Namun malam ini Chris justru menemukan orang yang benar-benar tak disangkanya berada di sana; salah satu dari dua orang yang seminggu terakhir ini menarik perhatiannya. Cucu perempuan dari Mr. Kurniawan.
Seolah menyadari kehadiran Chris, gadis yang tampak seumuran dengannya itu menoleh dan kemudian tersenyum. Senyuman yang membuat Chris mau tak mau semakin mematung di tempatnya.
“Um … hei …”ujar pemuda itu terbata. Gadis yang berdiri di depannya itu langsung tertawa.
“Namaku Sisca. Aku sering melihatmu di tempat ini, tapi kurasa baru kali ini kita berkenalan, bukan begitu?”ucap gadis itu di sela tawanya. Tangannya terulur mengajak Chris untuk berjabat tangan. Pemuda itu ikut tersenyum dan kemudian membalas jabatan tangan gadis yang berdiri di depannya itu.”Namaku Chris. Sejujurnya aku juga sering melihatmu akhir-akhir ini. Kau cucu dari Mr. Kurniawan, kan?”tanya Chris sekedar berbasa-basi. Dia kan memang sudah tahu kalau gadis itu cucu Mr. Kurniawan. Gadis yang berdiri di depannya itu tampak berjengit sejenak sebelum kemudian kembali tertawa. Membuat Chris yang menatapnya cukup kebingungan.
“Maaf … hanya saja aku masih belum terbiasa mendengar orang menyebut Opa dengan sebutan Mr. Kurniawan …”ucap gadis itu di sela tawanya.
“Opa?”Chris bergumam bingung.
“Kakek, dalam bahasa Belanda. Aku dan sepupuku memanggil kakekku dengan sebutan itu!”jelas Sisca cepat. Chris justru semakin kebingungan.
“Bukankah kau berasal dari Indonesia?”tanyanya penasaran. Sisca langsung mengangguk.
“Benar, tapi kurasa karena Belanda sempat menjajah Indonesia selama lebih dari tiga abad penuh, beberapa istilah kami jadi terpengaruh oleh bahasa mereka!”jelas gadis itu lagi. Chris hanya bisa ikut tertawa.
“Kau ini termasuk gadis yang aneh ya …”uja pemuda itu terus terang. Sisca langsung mengernyitkan dahinya.
“Maaf … kenapa jadi aku yang disebut orang aneh?”tanya gadis itu tidak setuju. Chris malah kembali tertawa. Pemuda itu melangkah ke arah bangku terdekat dan menghempaskan dirinya ke bangku itu.
“Hmmm … karena namamu aneh dan entah bagaimana kau ini tampaknya sangat senang tertawa!”jawab Chris sambil tersenyum. Sisca langsung memanyunkan bibirnya.”Tanggal dua puluh lima adalah hari natal, jadi sudah tugasku untuk membantu membuat hiburan pada pesta natal di tempat ini!”ujarnya cepat.
Sisca tampak memikirkan sesuatu selama beberapa saat sebelum kemudian kembali tersenyum.”Seperti dugaanku, kau ini memang istimewa!”seru gadis itu sebelum kemudian kembali tertawa. Chris hanya menatapnya dengan tatapan tak mengerti.
“Maksudku, lihatlah dirimu! Kaos lengan panjang hitam, rambut lancip, berbagai macam rantai yang menggantung di celanamu… kau lebih terlihat seperti anak Punk dari pada seseorang yang bekerja di sebuah convalescent home!!! Tapi disinilah kau, bekerja dengan menghibur para orang tua selama masa liburanmu dan bahkan hari ulang tahunmu! Kau itu memang istimewa!”seru gadis itu ceria. Chris hanya tertawa. Orang-orang biasanya akan menyebutnya aneh karena pekerjaan sambilan dan penampilannya yang sangat bertolak belakang ini, tapi Sisca justru menyebutnya istimewa. Gadis itu memang aneh.
Chris tidak tahu bagaimana, tapi sejak pertemuannya dengan Sisca malam itu, dia dan gadis itu menjadi cukup dekat. Sisca sering menemaninya saat dia sedang beristirahat, dan dia sendiri jadi sering menghabiskan waktunya dengan Mr. Kurniawan. Sisca juga berada di samping pria itu tentu saja.Chris harus mengakui kalau dia memang menikmati waktu yang dihabiskannya bersama Sisca. Gadis itu begitu polos dan jujur. Penuh semangat dan kritis, terutama dalam mencerca cara berpakaian dan dandanan Chris. Hal yang lebih sering membuat Chris menyumpal kupingnya. Hal lain yang mau tak mau membuat Chris mengakui kalau dia menyukai gadis itu adalah bahwa gadis itu sangat senang tertawa. Dan jika Sisca sudah tertawa, seolah tertular maka dia akan ikut tertawa.
Chris sadar benar bahwa Sisca tidak akan menetap lama di negaranya ini. Gadis itu akan kembali ke negaranya beberapa hari setelah tahun baru. Ini membuatnya sedih, tapi tidak putus harapan. Hari ini adalah tanggal dua puluh lima desember. Hari natal dan juga hari ulang tahunnya. Hari ini juga ia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada gadis itu.
Pemuda itu menatap bayangannya di cermin untuk terakhir kalinya. Sempurna. Rambut hitamnya dibiarkan mengikal alami tanpa gel. Sebagai ganti kaos hitam yang biasa digunakannya, pemuda itu menggunakan kaos putih polos yang di double dengan kemeja lengan panjang merah yang dibiarkan terbuka. Kemeja yang hampir seumur hidupnya tak pernah ia gunakan. Ia juga memakai celana jeans biru gelap polos tanpa menambahkan pernak-pernik rantai yang selama ini menemaninya. Yang jelas, dia tampil dengan penampilan yang akan diancungi jempol oleh Sisca.
Dengan cepat Chris melangkahkan kakinya ke convalescent home itu. Dia bisa merasakan jantungnya berdetak dengan cepat dan angin dingin malam jelas menyergapnya, tapi Chris tak begitu memperdulikannya. Dia ingin segera menemui Sisca dan menyatakan keinginannya. Inilah yang menjadi semangat dan motivasinya untuk segera mencapai tempat itu lebih cepat dari biasanya.Tak ada yang mengucapakan selamat ulang tahun padanya tentu saja, bahkan Mrs. Park di meja resepsionis pun tidak. Mereka terlalu sibuk mempersiapkan pesta natal dan tidak menghiraukan Chris, tapi pemuda itu tidak peduli. Dia ingin segera menemui Sisca.
Gadis itu berada di kamar Mr. Kurniawan tentu saja, karena memang untuk menemani kakeknya lah gadis itu berada di sana, tapi hari ini ada beberapa tamu baru lagi yang mengunjungi Mr. Kurniawan. Beberapa orang yang tak dikenali Chris namun jelas dikenali Sisca dan keluarganya. Mereka mengobrol dan tertawa dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Chris.
Sisca menangkap kedatangannya tentu saja. Pintu kamar Mr. Kurniawan terbuka lebar dan gadis itu berdiri tepat menghadap pintu jadi gadis itu jelas menangkap sosok dirinya. Selama beberapa saat gadis itu mematung. Menatap dirinya dengan tidak percaya sebelum kemudian menutup mulutnya untuk menahan tawa. Chris juga ingin tertawa melihatnya. Gadis itu jelas tidak akan menyangka kalau Chris akan berpakaian seperti ini hari ini.
Chris memandang seluruh tamu di kamar Mr. Kurniawan sekilas sebelum kemudian kembali menatap Sisca. Gadis itu hanya memutar bola matanya. Jelas sekali kalau gadis itu terpaksa berada di sana. Chris mau tak mau tersenyum.”I’ll see you later!”ucap Chris pelan. Sisca langsung mengancungkan jempolnya tanda setuju. Pemuda itu kembali tersenyum dan melangkahkan kakinya menjauh dari kamar itu, namun baru beberapa langkah ia berjalan. Pertanyaan salah satu tamu Mr. Kurniawan langsung menarik perhatiannya.
“Jadi, Sisca sekarang pacarnya siapa?”
Chris berdiri mematung di tempatnya. Pertanyaan itu jelas dimaksudkan untuk menggoda Sisca, tapi walau bagaimanapun pertanyaan itu tetap menggelitik rasa penasarannya.
Chris bisa mendengar tawa Sisca menggema di ruangan itu.”Aku tidak punya pacar kok!”jawab gadis itu. Chris langsung menghela nafas lega. Tamu yang sama melontarkan pertanyaan lain yang diucapkan dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Chris. Kali ini jawaban Sisca yang diucapkan dalam bahasa Inggris lah yang langsung membuat hatinya hancur.
“Yeah, I guess I had someone I like in Indonesia…”
Kata-kata itu seolah menusuk dan menghujam langsung ke jantungnya. Chris tak tahu bagaimana, tapi dia kembali berakhir di halaman belakang. Tempat pertama kali dia berkenalan dengan Sisca. Merasa menjadi orang paling tolol di dunia.
Dia seharusnya tahu kalau gadis seperti Sisca pasti memiliki pemuda yang disukainya. Hanya saja dia berharap kalau dialah yang menjadi pemuda itu. Tapi hal itu sekarang jelas sudah tidak mungkin. Sisca mengatakan dengan jelas bahwa pemuda yang disukainya berada di Indonesia. Pemuda itu bukan dirinya.”Happy B’day Chris!!!”seruan penuh semangat Sisca seketika menyentakkannya. Entah sejak kapan gadis itu telah berdiri di depannya sambil menyodorkan sebuah kotak hitam berhiaskan pita merah.
Chris mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu. Dalam keadaan normal pemuda itu pasti sudah memeluk gadis itu dan menerima hadiah pemberiannya dengan penuh semangat, dan mungkin menyatakan perasaannya. Tapi sekarang dia hanya mempu menerima kotak itu sambil tersenyum getir dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti,”Thanks”.
Sisca tentu menyadari kesedihannya, karena gadis itu langsung menatapnya dengan bingung. Chris hanya tersenyum.
“Aku mendengar pernyataanmu di kamar Mr. Kurniawan tadi…”ujar Chris pelan. Sisca langsung mengerutkan dahinya, tanda ia tak memahami kemana arah pembicaraan Chris. Pemuda itu menatapnya sekilas dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
“Aku mendengar kalau kau menyukai seseorang di Indonesia…”kali ini pernyataan Chris itu jelas membuat gadis yang berdiri di hadapannya itu tersentak. Chris kembali tersenyum sebelum kemudian mengecup singkat pipi gadis itu. Membuat gadis yang berdiri di depannya itu mematung.”Happy B’day Chris!!!”seruan penuh semangat Sisca seketika menyentakkannya. Entah sejak kapan gadis itu telah berdiri di depannya sambil menyodorkan sebuah kotak hitam berhiaskan pita merah.
Chris mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu. Dalam keadaan normal pemuda itu pasti sudah memeluk gadis itu dan menerima hadiah pemberiannya dengan penuh semangat, dan mungkin menyatakan perasaannya. Tapi sekarang dia hanya mempu menerima kotak itu sambil tersenyum getir dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti,”Thanks”.
Sisca tentu menyadari kesedihannya, karena gadis itu langsung menatapnya dengan bingung. Chris hanya tersenyum.
“Aku mendengar pernyataanmu di kamar Mr. Kurniawan tadi…”ujar Chris pelan. Sisca langsung mengerutkan dahinya, tanda ia tak memahami kemana arah pembicaraan Chris. Pemuda itu menatapnya sekilas dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
“Aku mendengar kalau kau menyukai seseorang di Indonesia…”kali ini pernyataan Chris itu jelas membuat gadis yang berdiri di hadapannya itu tersentak. Chris kembali tersenyum sebelum kemudian mengecup singkat pipi gadis itu. Membuat gadis yang berdiri di depannya itu mematung.”I really like you, Sisca… but I guess … it’s not me, huh?”ucapnya pelan sambil menatap gadis itu dengan sendu. Seolah mencair dari kekakuannya gadis itu ikut menatapnya sebelum kemudian menundukkan kepalanya.”I’m sorry, but it’s not you…”ucap gadis itu setengah berbisik. Chris kembali memaksakan senyumnya. Bagaimanapun paling tidak dia sudah menyatakan perasaannya.
“Kurasa ini saatnya aku ditinggal sendirian…”ucapnya dengan nada bercanda. Sisca menatapnya dengan sedih sebelum kemudian memeluknya dengan erat.
“I’m sorry…”ucapan itulah yang ditangkap oleh telinga Chris sebelum gadis itu melepaskan pelukannya dan kemudian berjalan pergi meninggalkannya.
Chris menghela nafas panjang dan menatap langit malam yang membentang tanpa setitik bintang pun menghiasinya. Hingar bingar pesta natal yang baru dimulai terdengar dari dalam gedung convalescent home, tapi hanya kesunyianlah yang dapat dirasakan oleh Chris. Sayup-sayup Chris mendengar suara radio yang melantun dari dalam gedung.
“Silent night, Holy night…”seulas senyum seketika muncul di wajah pemuda itu. Lagu itu seolah menyadarkannya.
Chris memasukkan hadiah pemberian Sisca kedalam sakunya sebelum kemudian ikut melangkah masuk kedalam gedung convalescent home itu. Dia harus kembali bekerja. Dia harus kembali bekerja dan melupakan lubang kecil yang terbuka di hatinya. Menjadi seorang Chris yang dulu.
“Happy birthday to Chris and Merry Christmas to you!”
San Bernardino, California, A.S, 25 Desember 2007
Like this:
One blogger likes this post.